Seringkali ku bertanya pada diri:
"Wahai Hidayah...,Mengapa kau melabuhkan cinta begitu besarnya pada manusia? Padahal kau tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Mengapa?"
Allah menciptakan cinta di antara manusia. Dia yang paling hebat, paling tahu bagaimana cinta itu, bagaimana mencintai, bagaimana dicintai. Kenapa kita begitu syok, merasa paling mencintai, merasa paling dicintai, merasa memiliki segalanya dengan cinta.
Kenapa kau tak mencuba meraih matahari cinta Allah, yang tidak pernah tenggelam dan tak pernah lenyap. Tidak pernah usang, tidak hancur, dan tidak akan pernah sia-sia.
Mencintai Allah? Terlalu abstrak, terlalu aneh.
Masa? Itu kerana kita tak pernah merasa dekat, tak pernah berusaha mendekati-Nya. Allah menjadi asing kerana kita meletakkan Allah sebagai sesuatu yang berada di langit yang tinggi dan tak mungkinlah kita mencapainya. Jangankan mencintai, membayangkan untuk mendekatinya pun tidak mungkin.
Tahukah kau, Dia menawarkan cinta-Nya untuk kau??
Hebatkan? Kita? Manusia yang hina yang berasal dari setitis sperma yang hina? Ditawarkan cinta dari pembuat cinta. Kemudian kita menolak dan menjauhinya. Betapa bodohnya kita..
Kalau cinta seperti itu ditolak, cinta apa lagi yang kita harapkan?
Cinta yang membawa pada kekecewaan, rasa sakit, atau derita?
Cinta yang hanya mekar semusim, lalu luruh tak berbekas. Percayalah, cinta yang ditawarkan-Nya tak pernah layu atau luruh. CintaNya abadi, mekar selamanya.
Dan Dia akan memberi kita cinta dari manusia. Mentari itu terus di sana, bila – bila dan dimanapun kita ingin merasakan hangatnya. Kita mempunyai cinta dari Allah.
Adakah kita tiada niat membalas ketulusan cinta itu?
No comments:
Post a Comment